Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Film Porno Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.“Ummi… Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? “Ini dia mujahidah (*) ku!” pekik hatiku. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?”Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Tes! Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud (**) dan ‘iffah (***) sepertimu? “Ini dia mujahidah (*) ku!” pekik hatiku. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya.




















