Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Bokep Sial. Lalu pijitan turun ke bawah. Masih melongo.“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.“Ini..?” kataku.“Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. suara itu lagi, suara wanita setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di lehernya. Astaga. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing.Dari atas: Turun. Badannya berbalik lalu melangkah. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas.Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja. Alamak.., jauhnya. Astaga. Tetapi berlari. Ah sialan. Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu. Ia malah melengos. Jendela kubuka.










