Aku masih cuek dengan keadaan sekelilingku tapi Iswani agak gelisah dan mengeluhkan ajakanku ke kafetaria. Kucumbu tengkuk kirinya dan sesekali kukulum telinga kirinya. Bokep “Ke kafetaria yuk”, ajakku dengan tak menghiraukan gurauannya.Beberapa tamu penginapan yang ada di kafetaria menoleh ke arah Iswani ketika kami memasuki kafetaria penginapan. Raguku benar-benar hilang dan tangannya semakin bebas bergerak. “Mbak, jangan nyubit lagi Mbak, ampun Mbak..”, katau meminta belas kasihannya. Tangan kiriku yang bebas meremas kedua payudaranya bergantian. Mbak..”. “Enak saja, aku yang rugi Mbak, perusahaan tidak mengasuransikanku dari cubitan”, kataku serius.Tak lama kemudian pesanan kami datang. Terkejut oleh ucapannya yang panjang dan mengagetkan aku hanya mengucapkan “Terima kasih banyak, Mbak”.




















