Matanya menatapku saat aku keluar dari kamar. Masih banyak gadis untukku. Bokep Tante “Ray…” kudengar gadis itu meratap terisak dalam dekapanku. Seandainya hal ini benar, mungkin pelabuhanmu sudah dekat di depan mata.Sementara aku pun akan tetap tenggelam dalam tarian jemariku di atas tuts-tuts mesin tik tua kesayanganku, dan gadis-gadisku tentu saja. Karena seperti kata pepatah kuno, hanya setan yang mengerti setan. “Sentuh aku, Ray!” desahnya di dadaku. Jay memandang mataku, dan melengos ke arah lain. Itulah Chie. Bukan gadis yang berhak masuk dalam katalogku. Aku bangga, karena suaminya adalah seorang bule yang benar-benar bule, yang “open minded”. “Chie…” desahku, mengusap ubun-ubun kepalanya.




















