Windu menahan nafas. Bokep Tante Kelebatan wajah ibu dan ayahnya kembali muncul. Dengan santai si mungil naik ke ranjang dan duduk di atas pantat Windu dan melanjutkan memijat. “Sempat lihat yang duduk-duduk tadi, pak? Tenang mas, pelan-pelan saja… Jangan gugup gitu ahh..” masih teringat kata-kata wanita di panti pijat tadi, dengan senyum yang menggoda tapi ditafsirkannya sebagai sindiran.“Hei, cowok…!” Windu terkejut mencari sumber suara yang terdengar aneh itu. Obrolan mereka terhenti saat Windu dan si resepsionis melewati mereka dan berbelok menaiki tangga kayu. “Heiii… cakep… ayooo dooong… Suka nyepong kan?”
Windu mempercepat langkahnya sambil terus memaki dalam hati. Wah, masih perjaka dooong…? Windu hanya tersenyum kaku sambil terus naik ke atas tangga, berbelok ke kiri menuju deretan kamar berpintu. Windu terduduk lemas dengan wajah pucat pasi. Di depan sejumlah kamar ada sepasang selop menggeletak.Mereka sampai




















