Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. “Ini dia mujahidah (*) ku!” pekik hatiku. Bokep Jepang Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Isteri shalihah itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai.“Gimana nggak nangis! Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Senyum bahagia.“Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis,” batinku. Sungguh, baru kali ini aku melihat isteriku segirang ini.




















