Aku tidak berpakaian kini. Aku masih mematung. Bokep Cina Aku menurut saja. Dingin. Bibirku melumat bibirnya.“Jangan di sini Sayang..!” katanya manja lalu melepaskan sergapanku.“Masih sepi ini..!” kataku makin berani.Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Di balik kain tipis, celana pantai ini ia sebetulnya bisa melihat arah turun naik Si Junior. Ah segar. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Tidak perlu diantar. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Wien datang. Tidak pasang wajah perangnya.“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti.




















