Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.“Si Nina, yang tadi. Aku menggelepar.“Sst..! Video bokep Jendela kubuka. Aku masih mematung. Mendadak jari tanganku dingin semua.Wajahku merah padam. Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita. Ke bawah lagi: Turun. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum siap. Ah sial. Dadaku mulai berdegup lagi. Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa. Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita. Aku tidak menjepit tubuhnya. Aku berhasil.




















